Setelah Agung dan Deden tak sengaja bertemu dengan hal baru pada
hidupnya. Kedua saudara tersebut kini melakukan tugas nya masing-masing
sebagai pekerja muda yang mapan. Namun, mereka berdua masih tetap
penasaran akan hubungan Trevor si tikus penginapan dan Yopi orang
misterius yang bertemu di kapal.
“Yah, Bu.. aku pulang..!” sahut Deden.
“Tumben cepet banget?” tanya Burhan, sang ayah.
“Iya nih, cuaca nya tiba-tiba berubah drastis gak kaya biasanya. Jadi,
semua penerbangan di batalkan, cuma ada sedikit tugas aja tadi” Jelas
Deden.
“Ohh, gitu.. eh, eh langsung mau kemana kamu?” Tanya Siti, sang Ibu.
“Ruang kerja Kak Agung…!” Teriak Agung dari kejauhan, karena langsung berlari menuju ruang kerja sang kakak.
“Kak, boleh masuk nggak?” Ucap Deden sambil mengetok pintu ruang kerja sang kakak.
“Iyaaa, masuk aja..!” Jawab Agung.
“Waaah, lagi banyak order nih, nah yang satu ini kok mirip banget dengan
kita berdua? Tapi ngapa bikinnya cuma kepalanya aja? apa belum
selesai?” Tanya Deden.
“Ah, karya jelek itumah bukan aku yang buat, tapi gak tau siapa. Orang
tau-tau udah dapet kiriman kaya gitu tapi gak nyantumin nama gak ada
surat posnya lagi! Tau-tau udah ada di kamarku, mungkin dari fans ku
kali..? hehehe”
“Aneehhh, mengirim barang kok gak nyantumin nama?! Memangnya di situ gak ada alamat pengirimnya juga kak?” Tanya Deden.
“Ya gak tau..! aku belum cek! Udahlah gak usah ganggu!” bentak Agung.
Seketika itu Deden langsung mengecek bingkisan dari pengirim
misterius itu, dia cek dengan jeli setiap sudut-sudut bingkisan.
Ternyata benar saja, ada sebuah surat pendek seperti memo bertuliskan
“JANGAN IKUTI JEJAK SAYA, JIKA TIDAK AKAN DIBAYAR DUA KEPALA!”
“Kak! Lihat..!” Kata Deden sambil menunjukan surat itu.
“Cuihh, sialan! Ayo kita ke NTT! Kita akan berlayar kesana!” Bentak Agung.
“Kenapa gak pake pesawat aja kak?”
“Sepertinya mereka ada di tempat sepi! Disana adalah daerah kepulauan,
banyak pulau kecil tak berpenghuni disana, kurasa mereka ada di salah
satu pulau” Jelas sang kakak.
“Tapi, firasat ku gak bilang begitu Kak!”
“Udah! Ikut aja! Bilang ke Pak Yadi suruh siapin kapal!”
“Iya, setelah aku mempersiapkan barang-barangku” kata Deden.
Setelah itu Deden langsung ke ruangan Pak Yadi, nahkoda Pribadi mereka.
“Pak, kita ke NTT sekarang!”
“Haaa! Itu kan gak jauh, ngapain juga kesana?” Kejut Pak Yadi.
“Udah, berangkat aja. Yang penting kan udah punya surat izin berlayar”
“Ya sudahlah, nanti aku panggil para awak kapalku”
Agung, Deden, Pak Yadi beserta para awaknya akhirnya berangkat menuju daerah kepulauan NTT.
“Huh, sial! Liat aja mereka! Pasti tak abisin!” Kesal Agung sambil menatap sinis lautan.
“Udah si, Kak! Jaga emosi mu! Berfikir itu lebih baik. Gak tau matahari lagi panas-panasnya ya? Mending simpan aja staminamu”
“Tapi…? ya… iya udah lah, bener juga kata-kata mu”
Matahari telah menutupkan wajahnya, hawa dingin udara laut mulai
terasa. Tetapi ini tak berpengaruh pada sang kakak, ia tetap saja panas
dan tak sabar sampai di tujuan.
“Pak! Pak Yadi?! Bisa cepet nggak sih?!” Tanya Agung kepada sang nahkoda.
“Ini juga sudah paling cepat, beruntung cuaca nya mendukung. Aku juga
heran kenapa angin nya tenang, sangat tenang malah. Aku udah 16 tahun
jadi pelaut baru kali ini aku nemu cuaca seperti ini, tenang! Kita pasti
cepat sampai” Jelas Pak Yadi.
“Sekitar berapa jam lagi pak?”
“Pagi-pagi sekitar jam tujuh’an kapal ini sudah menepi. Sudah! Tidur dulu sana… kalian juga boleh tidur awak-awak ku!”
Waktu terus berjalan, seperti tak ada rintangan di laut, ombak pun
hampir tak terasa. Namun pada saat fajar Deden yang bangun lebih awal,
ia mendengar seseorang berteriak meminta tolong, kemudian ia berlari
menuju ruang kendali kapal untuk menemui Pak Yadi.
“Pak! Medengar sesuatu tidak? Seperti ada yang minta tolong! Coba diam, sttt?” kata Deden.
Ketika mereka diam mereka benar-benar mendengar orang berteriak minta
tolong. Pak Yadi pun memberhentikan kapalnya, dan mereka mulai mencari
sumber suara.
“Coba, Deden kitari bagian kanan kapal, kalau bapak kiri kapal, ini pegang senter ini”
Di saat Deden mengarahkan lampu senternya ke arah laut ia melihat
seseorang yang kelihatannya akan tenggelam, kemudian tak pikir lama ia
langsung menyelamatkan orang itu. BYURR!!
“Ada suara orang kejebur, pasti Deden udah nemu suaranya” Pikir Pak Yadi.
Ketika Pak Yadi menuju ke bagian kiri kapal, ia menemukan Deden sedang
berusaha menaiki kapal sambil membawa orang yang di selamatkan itu. Tak
pakai kompromi, Pak Yadi langsung membantu Deden. Syukurnya orang itu
tak pingsan apalagi mati.
“Dek, kamu ngapain berenang subuh-subuh gini?, udah tau air laut masih dingin gini?” Tanya Deden.
“Ughhh, grrrr, haaa, hhaaa, hasychimmm!!”
“Tolong ambilkan handuk Pak” Pinta Deden kepada Pak Yadi.
“Ini Den!”
“uhhh, ada-ada aja kamu inilah, Dek. Udah bisa ngomong belom? Kenapa kamu tadi berenang?” Tanya Deden.
“hhufft, aku ingin pulang Kak” jelas anak kecil yang Deden selamatkan.
“Memangnya dari mana mau kemana? Kaya mana ceritanya? Namamu sapa?” tanya Pak Yadi.
“Luis Pak. Kemarin sore aku nyebrang ke pulau pake perahu, tapi pas aku
kesana mau ngambil air tawar, baliknya perahunya sudah gak ada, kebawa
ombak paling, terus aku bosan di pulau itu, aku ingin pulang, makanya
aku nekat berenang” Jelas Luis.
“Oh, kalo gitu kamu kakak anterin ke rumahmu, tapi sebelumnya kakak mau
nanya? Kamu tau orang yang namanya Trevor gak?” tanya Deden.
“Taulah Kak! Dia itu sering datang di pulau pabuan, dia itu pengusaha
besar Kak! Dia sering membawa sayur-sayuran ke daerah kami, tapi dia gak
pernah bawa air segar untuk kami.”
“Hmmm, bisa gak kamu tunjukin tempatnya Trevor?” Tanya Deden.
“Jelas bisa, kebeneran papaku jadi kepala penjaga keamanan disana, jadi aku sudah sering kesana” Jelas Luis.
“Baiklah! Ayo Pak! Berangkat!”
Di tempat lain, Trevor dan bersama atasannya sedang menjalankan misi jahatnya.
“Hahahaha, aku suka dengan alat ini, bentar lagi kita akan coba Vor!”
“Iya bos, bentar lagi daerah ini tunduk sama kita! Hehe”
Sementara itu kapal Pak Yadi sudah menepi di Pulau Pabuan, Matahari
sudah mulai menunjukan cahaya nya. Namun tanpa disangka-sangka penjaga
mercu suar melihat kapal Mereka, segeralah penjaga mercu suar
menghubungi kepala keamanan.
“Settteeseetttzz, Halo disini Manu, minta jawaban. Ada kapal
tampaknya kapal itu bukan dari sini” Ucap Penjaga mercu suar dengan alat
komunikasinya.
“Settteeseetttzz, iya disini Pablo, siap melapor ke ketua!”
Di saat yang tepat, di saat Agung, Deden dan kawan-kawan turun dari
kapal, di saat itulah para penjaga keamanan menyambutnya dengan senapan.
“Eh, sialan! Minggir kalian! Aku ingin ketemu bos kalian! maksudnya
apa ngirim bingkisan itu!? Seperti dirinya sudah bag…” Bentak Agung.
“Diam, Kak! Ini bukan daerah kita” Cegah Deden sambil menutup mulut kakaknya.
“Diam! Selangkah saja berarti perang” ucap salah satu penjaga keamanan.
Tiba-tiba Luis berteriak.
“Sudah! Saya Luis! Putra Eli! Saya cuma ingin bertemu dan berbicara pada papa saya”
Semua orang hanya terdiam, mungkin ayah Luis adalah orang yang disegani di tempat itu.
“Anaakkku!!! Hhuuhhh Mama dan Papa sudah mencari-cari kamu tak
ketemu, dari mana saja kamu!” Teriak salah seorang penjaga keamanan yang
tak salah lagi adalah ayah Luis.
“Papa? ceritanya panjang banget! Mereka ini orang baik, sudah
menyelamatkan saya, papa mau keilangan anak satu-satunya?” Bisik Luis
kepada ayahnya.
“Baiklah, anak buah balik ke posisi kalian!” teriak ayah Luis.
“Ya, ketua!” Jawab serentak para penjaga keamanan.
“Terimakasih, kita saudara! Apa mau kalian?” Tanya ayah Luis.
“Kami mencari Trevor, jika situ gak mau buka mulut. Saya akan pergi” Kata Deden
“Ja.. ja.. tapi.. jangan jangan pergi, aku hanya tau sedikit tentang
keberadaanya. Dia pergi dua hari yang lalu dengan atasannya. Saya dengar
mereka mau menaklukan suatu Bandara Penerbangan”
“Bandara? Ya sudah makasih infonya, kami akan pergi, ayo Pak Yadi kita pulang!” kata Deden.
“Hei! Gila kamu! Sudah jauh-jauh kesini, hasilnya hanya seperti ini!” bentak Agung.
“Sudah kubilang dari awal firasat ku Trevor tidak disini! Lagipula aku tau Bandara mana yang mereka incar”
“Apa?! Jangan bilang, kau tahu tentang Yopi juga?!” teriak sang kakak.
“Tidak, jika itu aku belum tau”
Setelah itu, setelah perjalanan yang sangat panjang. Agung, Deden,
Pak Yadi beserta para awaknya pulang menuju rumah. Bagi Agung dan Deden
ini belum selesai, mereka belum puas dan masih ingin mencari Trevor.
masih banyak yang belum terkuak, namun satu persatu pasti akan muncul
dengan sendirinya. Agung dan Deden tak berhenti mereka akan terus
mencari jejak Trevor.
Cerpen Karangan: Muhammad Septian Rachmandika
Facebook: Muhammad Septian Rachmandika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar