Selasa, 06 Januari 2015

Petualangan Dua Saudara (Pencarian Jejak Trevor)

Setelah Agung dan Deden tak sengaja bertemu dengan hal baru pada hidupnya. Kedua saudara tersebut kini melakukan tugas nya masing-masing sebagai pekerja muda yang mapan. Namun, mereka berdua masih tetap penasaran akan hubungan Trevor si tikus penginapan dan Yopi orang misterius yang bertemu di kapal.
“Yah, Bu.. aku pulang..!” sahut Deden.
“Tumben cepet banget?” tanya Burhan, sang ayah.
“Iya nih, cuaca nya tiba-tiba berubah drastis gak kaya biasanya. Jadi, semua penerbangan di batalkan, cuma ada sedikit tugas aja tadi” Jelas Deden.
“Ohh, gitu.. eh, eh langsung mau kemana kamu?” Tanya Siti, sang Ibu.
“Ruang kerja Kak Agung…!” Teriak Agung dari kejauhan, karena langsung berlari menuju ruang kerja sang kakak.
“Kak, boleh masuk nggak?” Ucap Deden sambil mengetok pintu ruang kerja sang kakak.
“Iyaaa, masuk aja..!” Jawab Agung.
“Waaah, lagi banyak order nih, nah yang satu ini kok mirip banget dengan kita berdua? Tapi ngapa bikinnya cuma kepalanya aja? apa belum selesai?” Tanya Deden.
“Ah, karya jelek itumah bukan aku yang buat, tapi gak tau siapa. Orang tau-tau udah dapet kiriman kaya gitu tapi gak nyantumin nama gak ada surat posnya lagi! Tau-tau udah ada di kamarku, mungkin dari fans ku kali..? hehehe”
“Aneehhh, mengirim barang kok gak nyantumin nama?! Memangnya di situ gak ada alamat pengirimnya juga kak?” Tanya Deden.
“Ya gak tau..! aku belum cek! Udahlah gak usah ganggu!” bentak Agung.
Seketika itu Deden langsung mengecek bingkisan dari pengirim misterius itu, dia cek dengan jeli setiap sudut-sudut bingkisan. Ternyata benar saja, ada sebuah surat pendek seperti memo bertuliskan “JANGAN IKUTI JEJAK SAYA, JIKA TIDAK AKAN DIBAYAR DUA KEPALA!”
“Kak! Lihat..!” Kata Deden sambil menunjukan surat itu.
“Cuihh, sialan! Ayo kita ke NTT! Kita akan berlayar kesana!” Bentak Agung.
“Kenapa gak pake pesawat aja kak?”
“Sepertinya mereka ada di tempat sepi! Disana adalah daerah kepulauan, banyak pulau kecil tak berpenghuni disana, kurasa mereka ada di salah satu pulau” Jelas sang kakak.
“Tapi, firasat ku gak bilang begitu Kak!”
“Udah! Ikut aja! Bilang ke Pak Yadi suruh siapin kapal!”
“Iya, setelah aku mempersiapkan barang-barangku” kata Deden.
Setelah itu Deden langsung ke ruangan Pak Yadi, nahkoda Pribadi mereka.
“Pak, kita ke NTT sekarang!”
“Haaa! Itu kan gak jauh, ngapain juga kesana?” Kejut Pak Yadi.
“Udah, berangkat aja. Yang penting kan udah punya surat izin berlayar”
“Ya sudahlah, nanti aku panggil para awak kapalku”
Agung, Deden, Pak Yadi beserta para awaknya akhirnya berangkat menuju daerah kepulauan NTT.
“Huh, sial! Liat aja mereka! Pasti tak abisin!” Kesal Agung sambil menatap sinis lautan.
“Udah si, Kak! Jaga emosi mu! Berfikir itu lebih baik. Gak tau matahari lagi panas-panasnya ya? Mending simpan aja staminamu”
“Tapi…? ya… iya udah lah, bener juga kata-kata mu”
Matahari telah menutupkan wajahnya, hawa dingin udara laut mulai terasa. Tetapi ini tak berpengaruh pada sang kakak, ia tetap saja panas dan tak sabar sampai di tujuan.
“Pak! Pak Yadi?! Bisa cepet nggak sih?!” Tanya Agung kepada sang nahkoda.
“Ini juga sudah paling cepat, beruntung cuaca nya mendukung. Aku juga heran kenapa angin nya tenang, sangat tenang malah. Aku udah 16 tahun jadi pelaut baru kali ini aku nemu cuaca seperti ini, tenang! Kita pasti cepat sampai” Jelas Pak Yadi.
“Sekitar berapa jam lagi pak?”
“Pagi-pagi sekitar jam tujuh’an kapal ini sudah menepi. Sudah! Tidur dulu sana… kalian juga boleh tidur awak-awak ku!”
Waktu terus berjalan, seperti tak ada rintangan di laut, ombak pun hampir tak terasa. Namun pada saat fajar Deden yang bangun lebih awal, ia mendengar seseorang berteriak meminta tolong, kemudian ia berlari menuju ruang kendali kapal untuk menemui Pak Yadi.
“Pak! Medengar sesuatu tidak? Seperti ada yang minta tolong! Coba diam, sttt?” kata Deden.
Ketika mereka diam mereka benar-benar mendengar orang berteriak minta tolong. Pak Yadi pun memberhentikan kapalnya, dan mereka mulai mencari sumber suara.
“Coba, Deden kitari bagian kanan kapal, kalau bapak kiri kapal, ini pegang senter ini”
Di saat Deden mengarahkan lampu senternya ke arah laut ia melihat seseorang yang kelihatannya akan tenggelam, kemudian tak pikir lama ia langsung menyelamatkan orang itu. BYURR!!
“Ada suara orang kejebur, pasti Deden udah nemu suaranya” Pikir Pak Yadi.
Ketika Pak Yadi menuju ke bagian kiri kapal, ia menemukan Deden sedang berusaha menaiki kapal sambil membawa orang yang di selamatkan itu. Tak pakai kompromi, Pak Yadi langsung membantu Deden. Syukurnya orang itu tak pingsan apalagi mati.
“Dek, kamu ngapain berenang subuh-subuh gini?, udah tau air laut masih dingin gini?” Tanya Deden.
“Ughhh, grrrr, haaa, hhaaa, hasychimmm!!”
“Tolong ambilkan handuk Pak” Pinta Deden kepada Pak Yadi.
“Ini Den!”
“uhhh, ada-ada aja kamu inilah, Dek. Udah bisa ngomong belom? Kenapa kamu tadi berenang?” Tanya Deden.
“hhufft, aku ingin pulang Kak” jelas anak kecil yang Deden selamatkan.
“Memangnya dari mana mau kemana? Kaya mana ceritanya? Namamu sapa?” tanya Pak Yadi.
“Luis Pak. Kemarin sore aku nyebrang ke pulau pake perahu, tapi pas aku kesana mau ngambil air tawar, baliknya perahunya sudah gak ada, kebawa ombak paling, terus aku bosan di pulau itu, aku ingin pulang, makanya aku nekat berenang” Jelas Luis.
“Oh, kalo gitu kamu kakak anterin ke rumahmu, tapi sebelumnya kakak mau nanya? Kamu tau orang yang namanya Trevor gak?” tanya Deden.
“Taulah Kak! Dia itu sering datang di pulau pabuan, dia itu pengusaha besar Kak! Dia sering membawa sayur-sayuran ke daerah kami, tapi dia gak pernah bawa air segar untuk kami.”
“Hmmm, bisa gak kamu tunjukin tempatnya Trevor?” Tanya Deden.
“Jelas bisa, kebeneran papaku jadi kepala penjaga keamanan disana, jadi aku sudah sering kesana” Jelas Luis.
“Baiklah! Ayo Pak! Berangkat!”
Di tempat lain, Trevor dan bersama atasannya sedang menjalankan misi jahatnya.
“Hahahaha, aku suka dengan alat ini, bentar lagi kita akan coba Vor!”
“Iya bos, bentar lagi daerah ini tunduk sama kita! Hehe”
Sementara itu kapal Pak Yadi sudah menepi di Pulau Pabuan, Matahari sudah mulai menunjukan cahaya nya. Namun tanpa disangka-sangka penjaga mercu suar melihat kapal Mereka, segeralah penjaga mercu suar menghubungi kepala keamanan.
“Settteeseetttzz, Halo disini Manu, minta jawaban. Ada kapal tampaknya kapal itu bukan dari sini” Ucap Penjaga mercu suar dengan alat komunikasinya.
“Settteeseetttzz, iya disini Pablo, siap melapor ke ketua!”
Di saat yang tepat, di saat Agung, Deden dan kawan-kawan turun dari kapal, di saat itulah para penjaga keamanan menyambutnya dengan senapan.
“Eh, sialan! Minggir kalian! Aku ingin ketemu bos kalian! maksudnya apa ngirim bingkisan itu!? Seperti dirinya sudah bag…” Bentak Agung.
“Diam, Kak! Ini bukan daerah kita” Cegah Deden sambil menutup mulut kakaknya.
“Diam! Selangkah saja berarti perang” ucap salah satu penjaga keamanan.
Tiba-tiba Luis berteriak.
“Sudah! Saya Luis! Putra Eli! Saya cuma ingin bertemu dan berbicara pada papa saya”
Semua orang hanya terdiam, mungkin ayah Luis adalah orang yang disegani di tempat itu.
“Anaakkku!!! Hhuuhhh Mama dan Papa sudah mencari-cari kamu tak ketemu, dari mana saja kamu!” Teriak salah seorang penjaga keamanan yang tak salah lagi adalah ayah Luis.
“Papa? ceritanya panjang banget! Mereka ini orang baik, sudah menyelamatkan saya, papa mau keilangan anak satu-satunya?” Bisik Luis kepada ayahnya.
“Baiklah, anak buah balik ke posisi kalian!” teriak ayah Luis.
“Ya, ketua!” Jawab serentak para penjaga keamanan.
“Terimakasih, kita saudara! Apa mau kalian?” Tanya ayah Luis.
“Kami mencari Trevor, jika situ gak mau buka mulut. Saya akan pergi” Kata Deden
“Ja.. ja.. tapi.. jangan jangan pergi, aku hanya tau sedikit tentang keberadaanya. Dia pergi dua hari yang lalu dengan atasannya. Saya dengar mereka mau menaklukan suatu Bandara Penerbangan”
“Bandara? Ya sudah makasih infonya, kami akan pergi, ayo Pak Yadi kita pulang!” kata Deden.
“Hei! Gila kamu! Sudah jauh-jauh kesini, hasilnya hanya seperti ini!” bentak Agung.
“Sudah kubilang dari awal firasat ku Trevor tidak disini! Lagipula aku tau Bandara mana yang mereka incar”
“Apa?! Jangan bilang, kau tahu tentang Yopi juga?!” teriak sang kakak.
“Tidak, jika itu aku belum tau”
Setelah itu, setelah perjalanan yang sangat panjang. Agung, Deden, Pak Yadi beserta para awaknya pulang menuju rumah. Bagi Agung dan Deden ini belum selesai, mereka belum puas dan masih ingin mencari Trevor. masih banyak yang belum terkuak, namun satu persatu pasti akan muncul dengan sendirinya. Agung dan Deden tak berhenti mereka akan terus mencari jejak Trevor.

Cerpen Karangan: Muhammad Septian Rachmandika
Facebook: Muhammad Septian Rachmandika

Petualangan Dua saudara (Petualangan Pertama Dimulai)


 Pada suatu tempat hiduplah sebuah keluarga sederhana, yaitu keluarga Burhan Nawawi. Di keluarga tesebut hiduplah sepasang suami istri yang bahagia, Burhan dan Siti mereka adalah oang tua dari Agung dan Deden. Mereka hidup sangat bahagia, rumah yang besar, uang berlimpah dan semuanya terpenuhi, tetapi hal tesebut tak membuat keduanya lalai, bahkan mereka telah mapan sebagai pekerja muda. Dua bersaudara ini bagaikan saudara yang paling bahagia di seluruh dunia. Tetapi pada suatu waktu mereka mendapatkan kejenuhan, dengan begitu mereka berdua sepakat untuk cuti dan membuat jadwal liburan, namun tanpa di sangka-sangka liburan tersebut malah jadi Petualangan hebat.
“Den, kira-kira kemana ya enak nya?” Tanya Agung.
“Bali aja, Kak!” Jawab Deden.
“Aih, bosen, Den!”
Seketika itu Agung melihat sebuah sampul majalah dengan bergambar alam bebas.
“Nah, ada ide aku, Den!”
“Kemana, Kak?” Tanya sang Adik.
“Udah ikut aja!”
Tak lama kemudian mereka berkemas-kemas menyiapkan segalanya.
“Kok, bawa peta sih, Kak?”
“Ah, bawel sih, Den! Udah panasin mobil dulu sana!” Jawab Agung.
Setelah keduanya telah siap, sebuah Ferari pun siap untuk di gas. Kali ini Deden hanya bisa diam tak banyak bertanya seperti biasanya, karena memang jika sudah berada di mobil dia tak banyak bicara.
“Pelabuhan? Kan kita punya kapal pribadi, Kak?”
“Nahkoda kita sedang kakak kasih cuti, Den!”
“Ohh, gitu ya?”
Mereka berdua pun membeli tiket, dan menaiki kapal.
“Kok gak ambil kelas VIP aja sih, Kak?”
“Oh, iya ya? udah deh gak papa” Jawab Agung dengan santai.
Mereka berdua lekas keluar dari mobil dan bergabung dengan penumpang lainnya.
“Kok, sepi bener sih Kak penumpangnya? Kita sebenernya mau kemana sih? Satu, dua, tiga, empat. Cuma empat penumpang, Kak?”
“Kata siapa? Orang enam geh, sama kita berdua!”
“Tujuh! Ini baru duduk di samping kita!” Jelas Deden.
Tiba-tiba orang yang baru saja duduk, menyapa Agung.
“Hai, saya Yopi! Sepi sekali ya kapal ini?”
“Oh, ya ya ya. Memang! Sepi sekali! Saya Agung, Seniman!”
“Mau, jalan-jalan ya?” Tanya Yopi, orang baru itu.
“Iya, kok tau?”
“Dari bawaan nya aja udah keliatan”
“Pasti anda ini…” Tebak Agung.
Belum sempat menebak, Yopi sudah tak ada di tempatnya lagi.
“Kak! Aku mau cari angin segar dulu, matahari bentar lagi tenggelam!”
“Ya udah sana! Aku mau besantai dulu”
Baru saja Deden menghirup udara laut, Deden terheran dengan sebuah kapal pengangkut barang membawa barang-barang besi dan sejumlah barang-barang yang belum terlihat sebelumnya.
“Kamu jangan sekali-kali merusak keinginan mereka!” lagi-lagi Yopi, penumpang misterius itu seperti ada dimana-mana.
“Memangnya apa yang kamu ketahui tentang mereka?” Tanya Deden.
“Alat penghancur segalanya!”
“Apa?! Seriusan ini!? kemana tujuan Mereka?”
“Pulau Pancing, disana ada sebuah Goa tak terlihat di dekat Danau!” jelas Yopi.
“Yang benar saja?! Kau tahu segalanya?!”
“Sudahlah bukan urusan mu juga! Dua kata! Jauhi mereka!” bentak Yopi.
Dengan terheran-heran Deden lekas meninggalkan Yopi.
Matahari sudah terbenam, angin malam mulai berdatangan, suara ombak ikut menyelingi tidur nyenyak para penumpang kapal.
“Hoi Bangun! Masih ada perjalanan!” Bentak Agung kepada Deden.
Deden pun langsung bangun.
“Ini, pegang peta ini, kau jadi navigator ku, kita akan ke vila kita yang kemarin aku beli!”
Deden menjadi terkejut setelah melihat peta itu, peta itu bersketsakan Pulau Pancing.
“Ngapa? Ada yang salah?”
“Enggak kok, Kak!” Jawab Deden.
Tak menunggu lama Ferari mereka langsung menunjukan kelasnya, Berpacu menuju vila milik Agung. Namun di sela-sela perjalanan mobil Ferari yang agung kendarai hampir kehabisan bensin. Terpaksa mereka memutar arah untuk menemukan Pom bensin di pulau terpencil ini.
“Akhirnya ketemu juga ni kedai bensin walau bukan pom” Ucap Agung.
“Ughhh, aku kebelit BAB lagi lah. Aku cari WC dulu ya, Kak?!”
“Ya sudah sana!” Jawab Agung.
“Pak, masih berapa persedian bensin disini?” tanya Agung kepada pemilik kedai bensin.
“kurang lebih 55 liter, Pak!”
“Ambil semuanya, tuangkan ke mobil saya, kasihan dia kehausan!”
Di tempat lain Deden masih sibuk mencari WC, ia sempat bertanya kepada pemilik kedai bensin tetapi di rumah si pemilik kedai bensin tidak ada WC. Kemudian ia berputar-putar melilingi daerah setempat dan akhirnya ia menemukan WC di tempat penginapan.
“Ahhhh, lega!”
“5000!”
“Mahal bangeet!!! Busyyet! Nih uangnya!”
“Disini jarang Mas yang punya WC!” bentak sang pemilik penginapan.
Tetapi Deden merenung sejenak, sepertinya ada yang salah dengan si pemilik penginapan ini.
“Ah, sudahlah tak ada yang aneh” pikir Deden dalam hati.
Ketika ia keluar dari tempat itu ia baru sadar penginapan itu berhadapan dengan Danau. Dan benar saja ketika ia berbalik pandangan dan melihat penginapan itu. Ia benar-benar melihat kejutan. Nama penginapan itu adalah PENGINAPAN GOA dan itu tak jauh dari danau, bahkan berhadapan. Itu berarti tempat yang dikatakan oleh Yopi waktu di kapal. GOA TAK TERLIHAT DEKAT DANAU.
“Yup! Pasti ini tempatnya”
Langsung saja Deden memasuki tempat itu dan langsung mencari Sang pemilik penginapan untuk menanyakan beberapa pertanyaan.
“Eh, eh, eh, Pak! Pak! betulkan ini tempat penginapan?” tanya Deden.
“Iya memangnya kenapa?”
“kenal sama Yopi gak, Pak?”
“Bentar ya aku akan sedikit memberi kejutan!” jawab Sang pemilik penginapan.
Tiba-tiba dua orang bersenjata lengkap menyergap Deden dan menyekap dan mengikat mulut Deden untungnya saja Deden masih sempat berteriak memanggil nama Agung, kakaknya.
“Aduh kenapa lagi sih…? selalu aja nyari masalah Deden ini.!” Kesal Agung.
Agung pun lekas ke tempat Deden berteriak, baru saja sampai di halaman tempat penginapan, ia di halang oleh seseorang yang sangat besar dan kekar.
“Huh…? Jagoan ya?” kata orang yang besar dan kekar itu sambil menunjukan otot-ototnya.
“Sini, akan ku tunjukan yang namanya jagoan!” balas Agung.
Perkelahian sengit tak dapat dihindarkan, beberapa tinjuan Bagong lancarkan. Dan, Bum! Sekali tendangan menghantam ogan vital si kekar.
“Cuihh, sudah kuhancurkan jagoanmu! Tidak tahu kalau aku mantan atlet taekwondo. Untung masih ada sisa-sisanya” kata Agung.
Di lain tempat Deden sedang berusaha meloloskan diri. Ia berhasil melepaskan ikatan yang mengikat tubuhnya, karena penjagaan tak terlalu ketat dan alhasil ia berhasil lolos dari penyekapan.
“Bodoh, hanya menyekapku dengan tali seperti itu! Jelas aku lolos!” Ucap Deden.
Di lain waktu sang Pemilik penginapan berlari menuju suatu ruangan bawah tanah, Agung melihatnya dan mencoba mencegahnya, tetapi tidak berhasil dan pintunya terkunci namun Agung tak tinggal diam, ia mencoba mendobrak pintunya.
“Bos, mereka berdua berhasil masuk!” jelas sang pemilik penginapan.
“Bodoh, aku pasti mati sia-sia nantinya, aku tak mau! Aku akan keluar lewat jalan darurat ini, kau disini saja! Diam dan lakukan semampumu”
“Ta.. tapi”
Di waktu yang sama Agung masih mendobrak pintu bawah tanah.
“Perlu bantuan?” tiba-tiba Deden datang membantu.
Sembari mendobrak pintu mereka bercakap-cakap.
“Harusnya aku yang membantu kamu, Den! Bukan kamu yang datang membantuku!” Kata Agung.
“Kita ini kan bersaudara harusnya memang bahu membahu”
Tak lama kemudian pintu berhasil di dobrak, mereka berdua lekas menju ruangan tersebut. Sesampainya di dasar ruangan, mereka dikejutkan oleh sang pemilik penginapan. Namun, Agung berhasil menjinakannya.
“Siapa Bos kalian! Atau kupatahkan kepalamu!” Desak Agung.
“Aku tak akan buka mulut!”
“Jangan bunuh, Kak! Disini banyak petunjuk, sepertinya ini ruang komunikasi serta ruang kendali” Jelas Deden.
“Aduh, terlambat sudah ku pukul kepalanya, tapi untung Cuma pingsan”
“Trevor Andi Santana! Ini nama bos mereka, nampaknya mereka berhubungan erat dengan Yopi, yang kita temui di kapal, atau malah bermusuhan” jelas Deden.
“Lha, kamu kok bisa di tangkap mereka?” tanya Agung.
“Tadi aku menyebutkan nama Yopi, setelah itu aku langsung di sergap!” jawab Deden.
“Berati mereka musuhan dong! Pasti ada yang di sembunyikan!”
“Betul juga!” kata Deden.
“Tapi bagaimana kita mencari Trevor Andi siapa tadi?”
“Santana! Tenang aja, Kak! Untungnya aku membawa alat-alat radio ku! Aku kan bekerja di Bandara di bagian komunikasi hehe. Jadi aku bisa melacak mereka melalui sinyal radio yang sering mereka gunakan untuk Komunikasi, kita tunggu saja! Pasti ada panggilan dari radio ini! ” Jelas Deden.
Mereka berdua menyiapkan alat untuk melacak sinyal itu. Setelah itu menunggu panggilan yang datang dari radio lain. Setelah berjam-jam akhirnya ada panggilan dari radio tesebut.
“Halo, disini pusat! Meminta jawaban, halo…”
“Bagaimana, Den?!” Tanya Agung.
“Sekitar pulau Nusa Tenggara, Kak. Tepatnya NTT”
“Ya sudah, kita kan menguak ini untuk beberapa hari kemudian, aku harus mengerjakan pekerjaanku terlebih dahulu” jelas Agung sembari berjalan keluar ruangan.
“Oke! Aku juga, Kak! Aku hanya ada cuti tiga hari, setelah itu aku harus bekerja kembali!”
“Sip! Kita menginap sehari di vila ku, dan kemudian kembali ke rumah!” ajak Agung.
“Yeah, aku mulai menyukai kondisi ini” Pikir Deden dalam hati.
Akhirnya mereka berdua meninggalkan tempat itu, dan segera menuju villa sang kakak. Mereka baru saja di sentuh petualangan yang hebat. Namun, setelah ini ada petualangan-petualangan lainnya yang sudah menganga di depan mata mereka, namun mereka tak menyadarinya, tetapi mereka akan menyelesaikannya.

Cerpen Karangan: Muhammad Septian Rachmandika
Facebook: Muhammad Septian Rachmandika